GKJ TANGERANG

HOME | ALAMAT | KEBAKTIAN

BALADA SEORANG PENDETA
 

Oleh: Gantyo Koespradono

BERGELAR sarjana hukum, Yonatan Budisantoso, kalau mau, sebenarnya bisa saja memutuskan untuk tidak menjadi pendeta. Tapi panggilan Tuhan, menekadkan dirinya untuk memanfaatkan gelar sarjana theologianya sebagai pendeta jemaat di Gereja Kristen Jawa (GKJ) Bener, Purworejo, Jawa Tengah.

Secara formal Yonatan Budisantoso resmi menggembalakan jemaat GKJ Bener setelah dia ditahbiskan menjadi pendeta pada tahun 2001. Selepas SMA di Solo, laki-laki kelahiran tahun 1953 ini melanjutkan studinya ke Sekolah Tinggi Theologia Duta Wacana, Yogyakarta. Pendidikan formal theologianya diselesaikan pada tahun 1995.

Rindu memperdalam bidang hukum, dia kemudian kuliah lagi di Universitas Nasional Sebelas Maret (UNS) Solo dan berhasil meraih gelar sarjana hukum pada tahun 2001.

Kalau mau, Budisantoso bisa saja menjadi pengacara atau profesi menggiurkan yang mudah bergelimpangan uang. Tapi keinginan duniawi itu dia abaikan. Baginya, panggilan Tuhan jauh lebih mulia ketimbang uang. Maka begitu gelar sarjana hukum diraihnya, dia pun memutuskan dengan segenap hati untuk menjadi pendeta di GKJ Bener.

Bener berjarak lebih kurang 10 kilometer dari Purworejo. Namun situasi dan geografisnya berbeda jauh dengan Purworejo. Dia berada di pedalaman dan benar-benar (maaf) ndeso. Apalagi satu-satunya pepanthan di Kamijoro yang terletak di perbukitan.

Jarak antara GKJ Kamijoro dan GKJ Bener juga sekitar 10 kilometer. Rumah warga satu dengan yang lain berjauhan. Meskipun sudah dialiri listrik, jika malam hari, suasananya gelap gulita. Pasalnya, warga sengaja tidak menyalakan lampu untuk menghemat listrik dan biaya. Padahal, kata beberapa anggota Komisi Kespel GKJ Tangerang yang pernah berkunjung ke sana, di Kamijoro masih banyak hutan belukarnya. Banyak jalan terjal yang tentunya tak beraspal.

Dalam situasi dan suasana seperti itulah Yonatan Budisantoso melayani warga GKJ Bener dan Pepanthan Kamijoro yang terdiri dari 40 kepala keluarga dengan sepeda motor bututnya, Yamaha RX buatan tahun 1981. Dengan motor inilah, Budisantoso keluar masuk dukuh dan desa di Bener untuk melayani dan mengunjungi warga gereja yang sebagian besar adalah petani penggarap dan buruh.

Sering di malam hari yang gelap, sepeda motornya tidak bisa diajak kompromi, mogok. Tidak ada cara lain, Budisantoso harus menuntun sepeda motor yang lumayan berat itu ke Bener atau dititipkan ke rumah warga. Pelayanan dengan kondisi seperti itu dilakoninya sejak tahun 2001 dan entah sampai kapan.

Mengganti sepeda motor -- dengan yang bekas sekalipun -- rasanya tidak mungkin; pastinya juga tidak tega. Bagaimana mungkin, persembahan mingguan yang terkumpul dari jemaat, baik yang berasal dari gereja induk (Bener), maupun pepanthan Kamijoro rata-rata cuma Rp 100.000. Ya, benar seratus ribu rupiah.

Lantas bagaimana Yonatan Budisantoso makan dan memenuhi kebutuhan ekonomi rumah tangganya? Dia juga mengajar sebagai guru agama di beberapa sekolah. Tapi berapalah honor seorang guru agama?

Menikah dengan Endang, Budisantoso dikaruniai Tuhan tiga orang anak. Anak pertama kini kuliah di Universitas Duta Wacana Yogyakarta, anak kedua SMA, dan anak ketiga masih duduk di sekolah dasar.

Melayani jemaat dengan mobil bagi Yonatan Budisantoso mungkin hanya mimpi. Baginya, sang sepeda motor bisa hidup distarter saja sudah merupakan karunia, apalagi jika dapat yang baru. Bisa jadi itu dianggapnya sebagai intan berlian yang jatuh dari surga. Ironisnya, kita sering mengalaminya. Bersyukurlah.***

 

MENU:

1. Renungan

2. Artikel