|
NAPAK TILAS GEREJA KRISTEN
JAWA TANGERANG
Oleh: Gantyo Koespradono
SETIAP langkahku diatur oleh Tuhan. Fakta inilah yang
menjadikan Gereja Kristen Jawa (GKJ) Tangerang terus
melangkah maju hingga memasuki usianya yang ketujuh.
Pada mulanya adalah Keluarga Bapak Supomo yang bersama-sama
dengan keluarga Kristen dari Jawa yang berdomisili di
Tangerang membentuk Kelompok Paduan Suara Keluarga Jawa di
Gereja Kristen Indonesia (GKI) Sutopo pada Oktober tahun
1980. Paduan suara dibentuk guna menyongsong Natal pada
tahun itu.
Begitu Kelompok Paduan Suara Keluarga Jawa terbentuk,
anak-anak Tuhan asal Jawa ini kemudian bersepakat membentuk
Persekutuan Kekeluargaan yang diberi nama Paguyuban Warga
Kristen Jawi.
Perpaduan faktor iman dan budaya inilah yang akhirnya
memotivasi Bapak Supomo dan saudara-saudaranya sepersekutuan
untuk melaksanakan panggilan-Nya dengan mendirikan gereja
dalam arti yang luas. Maka cikal bakal Gereja Kristen Jawa
Tangerang pun lahir.
Disemangati tekad bersatu dalam Kristus atas orang-orang
perantauan asal Jawa, pada tanggal 9 Januari 1981, untuk
kali yang pertama, kebaktian keluarga diselenggarakan di
rumah keluarga Achmadi, Cikokol. Adalah Pendeta Soetarman
yang saat itu memimpin kebaktian keluarga tersebut.
Sejak itu kebaktian keluarga diselenggarakan secara rutin
setiap hari Jumat di rumah-rumah anggota paguyuban secara
bergiliran. Pada tanggal 26 Januari 1981, Paguyuban Warga
Kristen Jawi mengajukan surat kepada GKJ Jakarta dan GKJ
Kebayoran agar memberikan pembinaan iman kepada warga
Kristen Jawa di Tangerang.
Untuk pertama kalinya pada 22 Februari 1981, Paguyuban Warga
Kristen Jawi Tangerang mengadakan kebaktian pada hari Minggu
yang ketika itu dimpimpin Majelis GKJ Kebayoran.
Hari berganti hari. Bulan berganti bulan dan tahun berganti
tahun. Atas kasih dan perkenan Tuhan pada 9 Agustus 1981,
dengan jumlah warga 22 orang, diresmikanlah GKJ Pepanthan
Tangerang yang menginduk pada GKJ Kebayoran yang dalam
perjalanan sejarahnya berubah menjadi GKJ Nehemia.
Karena belum memiliki tempat yang permanen, ibadah Minggu
berganti-ganti tempat hingga akhirnya mendapat lokasi
permanen di Jl Sudirman No 50 Tangerang pada 17 Juni 1984.
Ketika itu warga GKJ Tangerang 'balita' sudah berkembang
menjadi 53 orang.
Pelan tapi pasti, dan terus dalam penyertaan Tuhan. Itulah
realitas yang dialami GKJ Tangerang. Jumlah warga terus
bertambah. Maka pada tanggal 9 November 1995, Majelis GKJ
Nehemia Cabang Tangerang mengajukan surat permohonan kepada
gereja induk GKJ Nehemia agar didewasakan/mandiri.
Pada Februari 1996, kerinduan warga Kristen Jawa di
Tangerang itu lalu dibahas dalam Sidang Klasis GKJ Jakarta
Bagian Barat. Maka pada bulan Agustus 1997, tepatnya tanggal
29, GKJ Nehemia Cabang Tangerang pun kemudian didewasakan/mandiri
dan berganti nama menjadi GKJ Tangerang hingga sekarang.
Terus melangkah pasti di dalam Tuhan. Karena belum punya
pendeta, Majelis GKJ Tangerang pun membentuk Tim Pemanggilan
Pendeta, dan atas kasih Tuhan setelah melalui proses
penjaringan dan penyaringan, pada 8 November 2000, Bapak
Pramudianto dinyatakan lulus dalam ujian calon pendeta pada
Sidang Kontrakta Gereja-Gereja Kristen Jawa Klasis Jakarta
Bagian Barat. Pada 27 Januari 2001, Bapak Pramudianto
kemudian ditahbiskan menjadi pendeta GKJ Tangerang.
|
MENU:
1.
Renungan
2.
Majelis
|